SUNNAH SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian Sunnah

·         Menurut bahasa, As-Sunnah artinya jalan atau tuntutan, baik yang terpuji maupun yang tercel, sebagaimana dalam hadis Nabi SAW.[1]

·         Menurut istilah, As-Sunnah adalah segala yang dinukilkan dari Nabi SAW, berupa perkataan, perbuatan, taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup, sebelum dan setelah Nabi di angkat menjadi Rasul.[2]

·         Sunnah dalam arti syar’i ialah apa yang bersumber dari rasul, perkataan atau perbuatan atau ketetapan.[3]

·         As- sunah itu bersifat Dzanni al-warud. Dari kenyataan ini lah jumhur ulama mengatakan bahwa as-sunnah menempati urutan yang kedua setelah Al-qur’an, jadi as-sunnah adalah semua bentuk perkataan, perbuatan dan taqrir nabi yang merupakan sumber kedua setelah Al-qur’an.[4]

·         Menurut ahli hadits, pengertian hadits dan sunnah mengandung makna yang sama yakni sama-sama semua perbuatan, ucapan dan taqrir nabi. Akan tetapi, pada hakikatnya ada perbedaan antara hadits dan sunnah. Hadits ialah semua peristiwa yang disandarkan kepada nabi, walaupun hanya sekali saja terjadi disepanjang hayatnya. Sedangkan sunnah adalah Amaliyah nabi yang mutawatir, khususnya dari segi maknanya, karena walaupun dari segi lafal penukilannya tidak muatawatir yang menyebabkan sanad nya pun menjadi tidak mutawatir pula namun karena pelaksanaannya mutawatir maka dia dinamakan sunnah.[5]

Dalam al-Qur’an terdapat kata “sunnah” dalam 16 tempat yang tersebar dalam beberapa surat denga arti “kebiasaan yang berlaku” dan “jalan yang diikuti”. Umpamanya dalam firman Allah dalam surat Ali Imran (3):137:

ô‰s%ôMn=yz`ÏBöNä3Î=ö6s%×ûsöߙ(#r玍šsù’ÎûÇÚö‘F{$#(#rãÝàR$$sùy#ø‹x.tb%x.èpt6É)»tãtûüÎ/Éj‹s3ßJø9$#ÇÊÌÐÈ  

137. Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Kemudian dalam surat al-Isra (17):77:

sp¨Zߙ`tBô‰s%$uZù=y™ö‘r&šn=ö6s%`ÏB$oYÎ=ߙ•‘(Ÿwur߉ÅgrB$oYÏK¨YÝ¡Ï9¸xƒÈqøtrBÇÐÐÈ  

77. (kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap Rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perobahan bagi ketetapan Kami itu.

·         Sunnah dalam istilah ulama ushul adalah “ apa-apa yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan maupun pengakuan dan sifat Nabi”.

·         Sunnah dalam istilah ulama fiqh adalah “sifat hukum bagi suatu perbuatan yang dituntut melakukannya dalam bentuk tuntutan yang tidak pasti” dengan pengertian diberi pahala orang yang melakukannya dan tidak berdosa orang yang tidak melakukannya.[6]

 

B.     Macam- Macam Sunnah

1.      Sunnah Qauliyah

Sunnah qauliyah adalah hadits-hadits rasul yang berupa ucapan di dalam berbagai tujuan dan permasalahan mazhab. Sunnah qauliyah juga dapat diartikan ucapan lisan dari Nabi Muhammad SAW yang didengar dan dinukilkan oleh sahabatnya, namun yang diucapkan Nabi itu bukan wahyu al-Qur’an. Al-Qur’an juga lahir dari lisan Nabi yang didengar oleh sahabat dan disiarkannya kepada orang lain sehingga kemudian diketahui orang banyak.

Dengan demikian, menurut lahirnya al-Qur’an dan Sunnah qauliyah sama-sama muncul dari lisan Nabi. Namun para sahabat yang mendengarnya dari Nabi dapat memisah-misahkan mana yang wahyu dan mana yang ucapan biasa dari Nabi.

Sunnah qauliyah seperti yang disebutkan di atas adalah ucapan Nabi yang didengar, dipahami dan dinukilkan serta disebarluaskan dalam pemberitaan atau periwayatan. Ucapan Nabi yang dikutip secara resmi dan kemudian tertulis itu merupakan dalil hukum, meskipun pada mulanya mungkin hanya ucapan yang bersifat pribadi untuk tujuan khusus.

 

2.      Sunnah Fi’liyah

Semua perbuatan dan tingkah laku Nabi yang dilihat, diperhatikan oleh sahabat Nabi kemudian disampaikan dan disebarluaskan oleh orang yang mengetahuinya. Yaitu perbuatan rasul seperti melakukan shalat wajib lengkap dengan tat caranya, mengerjakan manasik haji. Tentang apakah semua yang dinukilkan itu mempunyai kekuatan untuk diteladani dan mengikat untuk semua umat Islam.

Perbuatan Nabi yang dapat diketahui merupakan penjelasan hukum untuk umat dan menjadi dalil hukum yang harus dipatuhi oleh umat Islam.

 

3.      Sunnah Taqririyah

Bila seseorang melakukan suatu perbuatan atau mengemukakan suatu ucapan di hadapan Nabi atau pada masa Nabi, Nabi mengetahui apa yang dilakukan orang itu dan mampu menyanggahnya, namun Nabi diam dan tidak menyanggahnya, maka hal itu merupakan pengakuan dari Nabi. Keadaan diamnya Nabi itu dapat dibedakan pada dua bentuk:

Pertama, Nabi mengetahui bahwa perbuatan itu pernah dibenci dan dilarang oleh Nabi.

Kedua, Nabi belum pernah melarang perbuatan itu sebelumnya dan tidak diketahui pula haramnya.[7]

 

C.     Pembagian As-Sunnah Berdasarkan Sanad

Dilihat dari rawinya, As-sunnah dibagi menjadi tiga bagian:

·         Sunnah mutawatir (hadits mutawatir)

Ialah sunnah yang diriwayatkan dari seorang rasul, sejak masa sahabat, tabi’in dan tabi’in tabi’in oleh banyak orang sehingga mustahil untuk berdusta menurut adat karena jumlahnya banyak dan perbedaan pandangan serta budaya nya.Biasanya as-sunnah amaliyah yang termasuk bagian ini seperti mengerjakan shalat, puasa, haji, yang bersifat amaliyah.

·         Sunnah masyurah (hadits masyur)

Yaitu sunnah yang diriwayatkan oleh rasulullah oleh seorang, dua orang atau sekelompok sahabat yang tidak mencapai derajat atau tingkatan sunnah mutawatir. Yang termasuk kelompok ini adalah Umar bin khatab, Abdullah bin mas’ud atau Abu bakar as-siddiq.

·         Sunnah ahaad (sunnah ahad)

Yaitu sunnah yang mempunyai satu atau dua sanad yang berlainan yang tidak mencapai derajat masyhurah.

Hadits ahad terbagi kepada tiga jenis, yaitu :

1.      Hadits sahih adalah hadits yang bersambung sanadnya dari orang yang adil lagi dhabit, yang selamat dari syaz dan ilat.

2.       Hadits hasan adalah hadits yang dhabitnya tidak sahih.

3.      Hadits dhaif adalah hadits yang lemah atau hadits yang tidak mempunyai syarat-syarat hadits sahih.[8]

 

D.    Fungsi Sunnah

Dalam uraian tentang al-Qur’an telah dijelaskan bahwa sebagian besar ayat-ayat hukum dalam al-Qur’an adalah dalam bentuk  garis besar yang secara amaliyah belum dapat dilaksanakan tanpa penjelasan dari Sunnah. Dengan demikian fungsi Sunnah yang utama adalah untuk menjelaskan al-Qur’an. Hal ini telah sesuai dengan penjelasan Allah dalam surat al-Nahl (16):64:

 

!$tBur$uZø9t“Rr&y7ø‹n=tã|=»tGÅ3ø9$#žwÎ)tûÎiüt7çFÏ9ÞOçlm;“Ï%©!$#(#qàÿn=tG÷z$#ÏmŠÏù “Y‰èdurZpuH÷qu‘ur5Qöqs)Ïj9šcqãZÏB÷sãƒÇÏÍÈ  

64. Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

 

Dengan demikian bila al-Qur’an disebut sebagai sumber asli bagi hukum fiqh, maka Sunnah disebut sebagai bayani. Dalam kedudukannya sebagai bayani dalam hubungannya dengan al-Qur’an, ia menjalankan fungsi sebagai berikut:

1.      Menguatkan dan menegaskan hukum-hukum yang tersebut dalam al-Qur’an atau disebut fungsi ta’kid dan taqriri. Dalam bentuk ini Sunnah hanya seperti mengulangi apa-apa yang tersebut dalam al-Qur’an. Umpamanya firman Allah dalam surat al-Baqarah (2):110:

(#qßJŠÏ%r&urno4qn=¢Á9$#(#qè?#uäurno4qŸ2¨“9$#4$tBur(#qãBÏd‰s)è?/ä3Å¡àÿRL{ô`ÏiB9Žöyzçnr߉ÅgrBy‰YÏã«!$#3¨bÎ)©!$#$yJÎ/šcqè=yJ÷ès?׎ÅÁt/ÇÊÊÉÈ  

110. Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan.

Ayat yang dikuatkan oleh sabda Nabi:

 

ﺑﺑﻰ ﺍﻻ ﺴﻼ    ﻡ ﻋﻠﻰ ﺨﻣﺲ ﺸﻬﺎ ﺪﺓ ﺍﻦ ﻻ ﺍﻠﻪ ﺍﻻ ﷲ ﻮﺍﻦ ﻣﺤﻣﺪﺍ ﺮﺴﻭﻞ ﷲ ﻭ ﺍﻘﺎﻡ ﺍﻠﺻﻼﺓ ﻭﺍﻴﺗﺎﺀ ﺍﻠﺮ ﻜﺎﺓ….

Islam itu didirikan dengan lima pondasi: kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat…..

2.      Memberikan penjelasan terhadap apa yang dimaksud dalam al-Qur’an dalam hal:

a.       Menjelaskan arti yang masih samar dalam al-Qur’an,

b.      Merincikan yang dalam al-Qur’an disebutkan secara garis besar,

c.       Membatasi apa-apa yang dalam al-Qur’an disebutkan secara umum,

d.      Memperluas maksud dari sesuatu yang tersebut dalam al-Qur’an.

 

3.      Menetapkan sesuatu hukum dalam Sunnah yang secara jelas tidak terdapat dalam al-Qur’an.[9]

 

E.     Tujuan-Tujuan Umum Sunnah Nabi SAW

a.       Mengajarkan akhlak ynag mulia kepada manusia,

b.      Mengajarkan sikap moderat dan adil kepada manusia,

c.       Mengajarkan etika mendengar dan taat kepada manusia,

d.      Menjauhi seluruh yang membuat marah Allah SWT

e.       Juhad di jalan Allah untuk menegakkan kalimat Allah[10]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan :

 

            Telah dipaparkan dalam pembahasan terdahulu bahwa “Sunnah” berfungsi sebagai penjelas terhadap hukum-hukum yang terdahulu dalam al-Qur’an. Kedudukan Sunnah adalah sebagai sumber dan dalil hukum kedua setelah al-Qur’an.
Kata “Sunnah” dalam periode awal Islam dikenal dalam artian seperti:

1.       Kata “Sunnah” disebutkan seiring dengan kata Kitab yang artinya cara-cara.

2.      Sunnah dalam ulama ushul: apa-apa yang diriwayatkan oleh Nabi SAW baik dalam ucapan, perbuatan, dan ketetapan.

3.      Sunnah sebagai salah satu sumber hukum atau dalil.

4.      Kata sunnah sering diidentikkan dengan kata hadits yaitu ucapan-ucapan Nabi.

Kata “Sunnah” yang telah diartikan seperti ini tidak jauh berbeda dengan fungsi sunnah yaitu:

1.       Sebagai penguat hukum dari hukum al-Qur’an.

2.      Sebagai penjelas.

3.      Sebagai ketetapan dalam Islam.

                                                                                                                                      

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Saebani, Beni Ahmad, dkk. Fiqh Ushul Fiqh. Bandung: Cv Pustaka Setia, 2008.

Mahmud, Ali Abdul Halim. Fikih Responsibilitas. Jakarta: Gema Insani Press, 1998.

Syarifuddin, Amir. Ushul Fiqh Jilid 1. Jakarta: logos Wacana Ilmu, 1997.

Syekh Abdul Wahab Khalaf. ilmu ushul fiqih.

 

Drs. H. Fathurrahman Djamil, MA. Filsafat Hukum Islam.

 

Prof. Dr. Nourozzaman Shiddiai, MA. Fikih Indonesia Penggagas dan Gagasannya.


[1] Saebani, Beni Ahmad. 2008. Fiqh Ushul Fiqh . Jakarta: cv Pustaka Setia. Hal 154

[2] Ibid, hal 155

[3]Syekh Abdul Wahab Khalaf. ilmu ushul fiqih. Hal 37

[4] Drs. H. Fathurrahman Djamil, MA. Filsafat Hukum Islam. Hal 93

[5] Prof. Dr. Nourozzaman Shiddiai, MA. Fikih Indonesia Penggagas dan Gagasannya. Hal 111

[6] Syarifuddin, Amir. 1997. Ushul Fiqh Jilid 1. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Hal 74-75

[7] Ibid, hal 76-81

[8] M. Ali Hasan. Perbandingan Mazhab. Hal 17

[9] Op. cit, hal 85-87

[10] Mahmud, Ali Abdul Halim. 1998. Fikih Responsibilitas. Jakarta: Gema Insani Preess. Hal 67-74

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s